Pameran Foto Binmas Noken Papua Jadi Perhatian Masyarakat

oleh -7 views

JawaPos.com – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyelenggarakan pameran foto mengenai kehidupan Papua yang bertajuk “Penjaga Peradaban Dari Polri Untuk Papua” di gedung Perpustakaan Nasional di jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan selama 2 pekan di bulan Ramadan, atau persisnya sejak 13 Mei hingga 24 Mei 2019.

Pameran foto ini diselenggarakan sebagai momentum peringatan satu tahun Satuan Tugas Binmas Noken Polri di Papua, dalam rangka melaksanakan tugas kemanusiaan. Kombes pol Dr. Eko Rudi Sudarto sebagai Kepala Satgas Binmas Noken Polri mengatakan bahwa kegiatan pameran ini bertujuan untuk mengangkat potret kehidupan masyarakat Papua kepada seluruh masyarakat Papua.

“Bagaimana potret itu dapat kami sajikan kepada dunia? Ini berjalan bersama kegiatan Polri yang mempunyai suatu program pendekatan kepada masyarakat di Papua melalui Satgas Binmas Noken Polri,” terang Eko Sudarto dalam keterangan pers yang diterima JawaPos.com, Rabu (21/5).

Kegiatan pameran foto Binmas Noken mendapat apresiasi yang sangat baik dari masyarakat. Setiap harinya, ada sekitar 300 orang pengunjung menikmati hasil karya foto yang merupakan kontribusi dari dari lima fotografer, meliputi Edwin Louis Sengka, Victor Merani, Faris Munandar, Daris Aprillah Ari, dan Muhammad Firman Hidayatullah.

Beberapa pengunjung memberikan testimoni bahwa pameran Binmas Noken Papua dianggap unik dan karyanya memiliki kebaruan, yang membuat para pengunjung tertarik datang menikmati karya fotografi.

Menurut Eko, berbagai foto yang diambil oleh para fotografer ini merupakan bagian dari perjalanan berbagai kegiatan Binmas Noken selama satu tahun di Papua. Satgas Binmas Noken Polri mempunyai program pendekatan kepada anak–anak di pedalaman Papua yaitu “Polisi Pi Ajar” atau Polisi pergi mengajar yang bertujuan memberi trauma healing kepada anak–anak di pedalaman Papua.

“Mayoritas masyarakat Papua berada di daerah pegunungan. Program trauma healing ini diperlukan setelah semakin banyak kejahatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di kawasan pemukiman di pegunungan. Beberapa daerah yang menjadi daerah tugas Binmas Noken meliputi Wamena, Nduga, Puncak Jaya, Lanny Jaya, dan beberapa daerah lainnya,” tegasnya.

Program unggulan Binmas Noken yang lain adalah pemberdayaan masyarakat pada sektor Pertanian dan Peternakan. Kegiatan ini diharapkan dapat memberi peningkatan penghidupan masyarakat lokal yang banyak terganggu oleh adanya kejahatan yang dilakukan oleh KKB, yang eskalasinya mengalami peningkatan sepanjang 2 tahun terakhir.

Eko Sudarto menerangkan bahwa kegiatan pembinaan masyarakat atau dikenal sebagai Binmas dirintis sekitar tahun 1990 dan sampai saat ini di beberapa polda masih diadopsi serta sangat bagus untuk pendekatan kepada masyarakat atau sosial edutsmen kepada masyarakat binmas pioner.

“Dalam konteks saat ini, Pak Kapolri Jendral Polisi prof. H Tito Karnavian, kemudian menggagas kembali operasi yang sama pada bulan April tahun 2018 dan diberi nama Binmas Noken Polri. Penamaan noken diambil dari khasanah budaya peradaban di papua yang luhur dan kita ingin pertahankan kenapa di momen ini kita ambil judul sebagai penjaga peradaban karena Polri merasa bahwa peradaban di papua banyak yang mulia dan kita harus jaga seiring dengan perkembangan waktu,” ungkapnya.

Filosofi ini bermakna luar biasa, yaitu Noken adalah sumber kehidupan, sumber martabat dan sumber peradaban bagi rakyat papua. Semua daerah di Papua pasti memahami apa itu Noken, yang secara harfiahnya sebagai tas saja tapi buat mama–mama di papua, Noken itu adalah sumber kehidupan yang bisa dipakai untuk belanjaan bisa dipakai untuk mengisi hasil panen, bisa dipakai untuk membawa putra–putinya masa kecil, bahkan untuk 1 barang baharga di sana yaitu ternak babi.

“Kita mengadopsi kata Noken karena, dengan demikian, kita ingin mendapatkan masukan dari masyarakat apa kira–kira program Polri yang bisa bersama–sama masyarakat, masyarakat tergugah masyarakat senang dan masyarakat merasakan bahwa kami dengan masyarakat itu tidak ada bedanya hanya status sosial bahwa kami petugas negara dan merekalah yang meminta petugas negara dan sama – sama saling mengisi peradaban,” tuturnya.

Polri ingin menjadikan ini moment luar bisa “one picture is thousand world”, satu gambar ini berjuta makna kalau bisa dilihat satu persatu, barang kali masyarakat yang ada di Jakarta ingin melihat one picture culson world menggambarkan dunia nyata di Papua.

SUMBER