Jumlah Layar Bioskop Indonesia Mulai Kejar Korea Selatan

oleh -15 views

Jakarta, CNN Indonesia — Perkembangan industri film Indonesia semakin menunjukkan tren positif. Hal ini salah satunya dilihat dari jumlah layar yang terus bertambah yang berpengaruh pada pertambahan jumlah penonton Indonesia.

Bahkan, Indonesia diprediksi akan memiliki dua ribu layar hingga 2019. Hingga saat ini, per 13 Mei 2019, jumlah layar di dalam negeri tercatat mencapai 1.861 berdasarkan data Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI).

Jumlah itu akan terus bertambah dan menembus 2.000 layar mengingat bioskop Cinema 21 selaku jaringan bioskop terbesar di Indonesia berencana akan menambah layar hingga 150 sampai akhir 2019.

“Awalnya kami mau lebih, tapi membangun bioskop tidak mudah. Akhirnya kami rampingkan hingga angka realistis 100-150 layar,” kata Corporate Secretary Cinema 21 Catherine Keng saat jumpa media di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (15/5) malam.

Catherine menyebut nilai investasi bisa mencapai Rp5-7 miliar per layar. Angka masih mungkin bertambah bila layar membutuhkan fasilitas pendukung lainnya. Artinya, angka investasi yang dibutuhkan untuk menggenapkan 2.000 layar diprediksi mencapai sekitar Rp500 miliar-Rp1 triliun.

Angka 2.000 layar menjadi titik penting bagi industri film Indonesia lantaran batas psikologis yang memungkinkan Indonesia akan memiliki penonton film menyamai Korea Selatan, 10 juta tiket terjual per film.

Korea Selatan yang merupakan pasar internasional ke-empat terbesar di dunia terakhir kali tercatat pada 2015 memiliki 2.492 layar tersebar di seluruh penjuru Negeri Gingseng dan memiliki 18 film lokal yang menembus angka 10 juta tiket terjual, sampai sejauh ini.


Jumlah layar Indonesia yang terus bertambah memungkinkan terus melonjaknya penonton Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Menurut data GPBSI, jumlah layar terus bertambah dalam sedekade terakhir. Pada 2008, Indonesia tercatat ada 574 layar yang terus bertambah kemudian menjadi 1.518 layar pada 2017 dan 1.774 pada 2018. Hingga per 13 Mei 2019, bertambah 87 layar menjadi 1.861 Layar.

Bila dihitung rata-rata, setiap bulan ada sekitar 17 layar baru.

Bila target Cinema 21 terealisasi, jumlah seluruh layar di Indonesia setidaknya akan menjadi 1.961-2.011 layar. Jumlah itu masih amat mungkin bertambah mengingat masih ada jaringan Cinemaxx, Blitz dan teater independen yang kemungkinan menambah layar hingga akhir 2019.

Pertumbuhan layar hingga 2.000 ini menjadi titik balik industri perfilman Indonesia. Kepada CNNIndonesia.com pada 2018 lalu, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Pesik mengatakan angka 2.000 layar menjadi penting bila Indonesia ingin memiliki industri perfilman yang dipandang.

“Menurut saya, tembusnya jumlah layar di atas 2.000 akan menembus angka psikologis box office. Jumlah layar itu akan menentukan jumlah box office. 2.000 layar itu kalau mau 10 juta penonton seperti di Korea Selatan, itu ada di angka 2.300-2.500 layar,” kata Ricky. “Box office Indonesia ke sana,”

Meski diprediksi menembus 10 juta penonton per film bila mencapai 2.000 layar, Indonesia sendiri diketahui terus mendulang penonton setiap tahunnya.


Film 'Dilan 1991' menjadi salah satu film dengan penonton terbanyak di Indonesia.Film ‘Dilan 1991’ menjadi salah satu film dengan penonton terbanyak di Indonesia. (dok: Max Pictures)

Kementerian Pendidikan dan kebudayaan mencatat ada 16 juta penonton pada 2015. Jumlah itu terus meningkat menjadi 36 juta pada 2016, 42 juta pada 2017 dan 48 juta pada 2018.

Jumlah penonton ini berkorelasi dengan pertambahan jumlah bioskop. Pada 2008, Indonesia memiliki 134 bioskop dan bertambah menjadi 279 bioskop pada 2017 dan 333 bioskop pada 2018.

Sampai 13 Mei 2019 bertambah 20 bioskop menjadi 353 bioskop, atau empat bioskop baru dibuka setiap bulannya tahun ini.

Jaringan Cinema 21 masih menjadi pemilik bioskop terbanyak. Pada 2019, Cinema 21 memiliki 54,9 persen dari total 353 bioskop atau setara dengan 194 bioskop. Sisa 159 bioskop dimiliki oleh Cinemaxx, CGV Blitz dan teater-teater independen.

“Kalau nilai investasi satu bioskop sekitar Rp30 miliar sampai Rp50 miliar. Nilai itu bisa berubah bergantung dengan jumlah layar dalam bioskop, luas bioskop dan lokasi,” kata Catherine.

Indonesia sendiri menurut laporan Motion Pictures Association of America (MPAA) sudah tergolong sebagai pasar film internasional yang besar.

Menurut laporan MPAA pada 2018, Indonesia berhasil membukukan pendapatan sebesar sekitar US$400 juta sehingga kembali menempati posisi 15 besar di pasar internasional.

Capaian tersebut bertambah sekitar US$100 juta atau Rp1,4 triliun dibandingkan pada 2017, yang saat itu Indonesia menempati posisi ke-16 dalam 20 besar dalam pasar internasional.

(adp/end)

SUMBER