KH Anwar Musaddad, Ulama Kharismatik Pencetus Konsep Universitas Islam di Indonesia

oleh -47 views

Liputan6.com, Garut – Mewarisi darah keturunan dua ulama besar penyebar agama Islam di Pulau Jawa. KH Anwar Musaddad, ulama asal Garut, Jawa Barat, seolah ditakdirkan menjemput nasib menjadi pemimpin besar di jamannya. Dialah pencetus pertama terbentuknya Universitas Islam di Indonesia.

Pembawaan yang tegas namun penuh canda, laiknya guyonan khas masyarakat sunda, membuatnya gampang berinteraksi dengan siapa pun. Tak jarang, setiap pengajian dan dakwah yang disampaikan Abah Musaddad, demikian masyarakat Garut menyapa, selalu dipenuhi khalayak ramai.

Ummu Salamah, salah satu putri kesayangan KH Anwar Musaddad mengatakan, rintisan perjuangan sang ayah dalam meraih pendidikan tidaklah mudah.

“Bapak itu dari mulai SD,SMP hingga SMA justru sekolah di sekolah katolik,” ujarnya kepada Liputan6.com, Senin (13/5/2019) petang.

Mendapatkan pendidikan agama sebagai dasar, dari ustaz di kampung halaman, Jalan Ciledug, Kecamatan Garut Kota. Anwar Musaddad kecil justru mendapatkan pendidikan dasar dari pengetahuan umum, berawal dari HIS Christeljik (Setingkat SD), lembaga pendidikan milik katolik. “Tadinya mau masuk HIS Belanda tetapi tidak diterima,” ujarnya.

Namun tak patah arang, meskipun dengan didikan ketat khas Katolik, termasuk mengikuti kegiatan setiap minggu di Gereja, ia mampu menamatkan pendidikan dengan hasil sangat memuaskan. “Bapak itu dari kecil dikenal pintar dan cerdas,” ujarnya.

Kayuh berlanjut, Anwar kecil pun kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah MULO Christeljik (Setingkat SMP) di Sukabumi, sebuah pemandangan langka bagi seorang muslim, yang lagi-lagi harus bersekolah di lembaga pendidikan milik nasrani.

“Di sana bapak kembali menjadi siswa terbaiknya,” ujar Ummu bangga.

Selama di ‘Kota Rahasia’ merujuk pada salah satu julukan Jepang saat berkuasa di Indonesia, Anwar yang beranjak remaja, mulai mendapatkan bimbingan pelajaran agama secara rutin dari Ustaz Sachroni.

“Karena bapak berprestasi akhirnya mendapatkan beasiswa dan melanjutkan ke AMS Christeljik di Jakarta, milik Kristen juga,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut tersebut.

Namun sayang karier pendidikan di Jakarta tidaklah mulus, dengan alasan kekhawatiran anaknya pindah keyakinan, karena seringnya bersinggungan dengan dunia gereja, pihak keluarga kemudian memutuskan membawa mudik Anwar ke kampung halaman di Garut.

“Tetapi sebenarnya banyak juga hikmahnya, salah satunya bapak menjadi jago bahasa Belanda dan Inggris yang justru keuntungan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” papar dia.

 

 

 

 

 

 

SUMBER