Bachtiar Nasir Sebut Kampanye Prabowo Sesuai Kearifan Lokal

oleh -91 views

Peserta kampanye tidak hanya dari kalangan umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Majelis Pelayan Indonesia (MPI) Ustaz Bachtiar Nasir menilai kampanye akbar Prabowo-Sandi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Ahad (7/4) lalu merupakan kampanye yang sarat dengan kearifan lokal dan tidak melenceng dari tradisi orang Indonesia. Justru menurutnya kampanye presiden dan wakil presiden yang selama ini selalu identik dengan hura-hura, joget-joget, bukanalah sesuatu yang menyangkut kearifan Indonesia yang terdiri dari heterogenitas agama, suku, budaya, dan golongan.

“Saya merasakan atmosfer ketika peserta kampanye yang datang ke GBK tidak hanya muslim, tapi juga non muslim,” kata Bachtiar Nasir dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/4).

Pimpinan AQL Islamic Center ini menyebutkan, kearifan lokal tersebut terlihat berkibarnya bendera merah putih berukuran besar dibanding alat peraga lain, orasi kebangsaan dari tokoh lintas agama, dan menyanyikan Indonesia Raya secara khidmat. Selain itu, kedua capres-cawapres juga kerap melakukan politik identitas seperti penyematan gelar adat oleh suatu suku, mendapatkan dukungan ulama, menggelar istighasah dan munajat kubra bahkan sampai kepada meralat doa seorang kyai yang dianggap salah mendoakan.

“Namun, atmosfer yang terjadi di Senayan sulit ditangkap oleh mereka yang melihat dari kacamata sekuler dari benaknya. Padahal, kegiatan di Senayan seperti kegiatan yang biasa banyak dilakukan seluruh umat,” kata Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Madinah tersebut.

Sekjen MIUMI menambahkan kearifan lokal lainnya yaitu semua elemen masyarakat bagi membahu dengan semangat kerelawanannya membereskan kembali sampah yang ada di sekitar, membagikan makanan dan minuman bahkan berani merogoh kantongnya untuk dana kemenangan Prabowo-Sandi. Ketertiban juga terlihat dalam kampanye akbar tersebut

Ia berharap tidak ada lagi pihak-pihak yang cepat memberi stigma negatif terhadap umat Islam seolah-olah identitas itu terlarang. Sebab, tidak mungkin mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam menjauhkan diri dari nilai-nilai tradisi Islam.

“Ini yang saya sebut sebagai kampanye kearifan lokal bukan politik identitas dalam kampanyenya. Semua berjalan dengan natural. Semua sesuai adat istiadat dan tradisi orang Indonesia. Ke depan,  jika ada identik dengan Islam janganlah terlalu cepat distigma dengan sebuah identitas seakan akan melarang. Bagaimana mungkin kita menjauhkan umat Islam dari tradisi keislaman padahal umat Islam mayoritas di Indonesia,” jelasnya. 

SUMBER