Sandiaga Janji Stabilkan Harga Bawang Merah Saat Panen

oleh -19 views

Sandiaga juga mengaku bersedia menandatangani kontrak politik dengan petani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin  Uno berdialog dengan kelompok  tani bawang merah di Desa Sukomoro, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (7/2). Pada kesempatan itu, Sandiaga mengatakan akan memberlakukan sistem yang pernah diterapkannya di DKI Jakarta untuk membantu petani dengan membeli langsung hasil produksi pertanian dari sumbermya.

Sandiaga menceritakan pengalamannya saat dirinya masih menjabat wakil gubernur DKI Jakarta. Saat itu dirinya membeli langsung dari petani bawang Brebes melalui PT  Food Station Tjipinang Jaya untuk menjaga pasokan bawang yang saat itu langka dan mahal.

“Waktu itu di DKI, bawang merah harganya naik dan langka. Kami mengambil inisiatif dengan PT  Food Station Tjipinang Jaya, menjalin kerjasama dengan petani bawang brebes. Alhamdulillah kami patahkan mitos harga tinggi di hari lebaran, karena pasukan terjaga. Petani bawang Brebes sejahtera, pedagang bahagia, pembeli tersenyum,” ucap Sandi, Kamis (8/2).

Menurut Sandi, dengan menggunakan teknologi Control Atmosphere Storage (CAS), produk pertanian seperti bawang bisa disimpan selama enam sampai sembilan bulan. Sehingga jika ada bawang yang belum laku terjual bisa disimpan selama enam bulan.

“Jika pasokan  dalam negeri stabil, harusnya sudah memulai proyeksi ekspor, produksi bawang kita terbesar se -ASEAN dengan industri turunannya seperti bawang goreng, pil bawang herbal dan lain-lain. Kita juga akan bangun industrinya,” jelas Sandi.

Sandiaga juga mengaku bersedia menandatangani kontrak politik dengan petani bawang untuk menjaga harga jual bawang merah tetap stabil apabila diperlukan. Mantan pengusaha itu juga berjanji akan membeli bawang yang dipanen petani dengan harga sepuluh ribu rupiah dan harga atas lima belas ribu rupiah.

“Jadi tidak ada lagi petani rugi. Pemerintah harus hadir buat petani. Karena salah satu fokus Prabowo Sandi adalah mewujudkan swasembada pangan. Bagaimana mau swasembada pangan jika petaninya tidak sejahtera,” tutup Sandi.

Sebelumnya para petani sempat menyampaikan curhatannya soal harga pupuk, obat, harga jual yang turun tiap kali panen dan bawang impor yang membuat petani merugi. Salah seorang petani, Sudarso mengaku sudah puluhan tahun menjadi petani bawang. Namun 10 tahun terakhir  dirinya merasa bahwa keuntungan yang ia dapat semakin sulit diperoleh.

“Saya di sini petani juga pedagang. Namun semenjak sepuluh tahun  belakangan ini selalu diikalahkan oleh harga jual dan dimahalkan  oleh pupuk dan obat-obatan. Jadi tidak ada kepastian, rasanya tidak adil,” keluh Sudarso.

SUMBER