Obesitas pada Anak Berpengaruh Terhadap Emosi dan Perilaku

oleh -35 views

loading…

ANITA hari itu mogok sekolah. Sang ibu bingung mengapa putri bungsunya itu menolak bersekolah, padahal selama ini Anita tidak ada masalah dalam pelajaran. “Setelah saya tanya dan dekati, ternyata Nita kemarin dikatain gendut sama teman sekelasnya. Dia kesal dan jadi mogok belajar,” kata Tasya, ibu anak 8 tahun itu. Akhirnya Tasya berinisiatif bertemu wali kelas Anita dan membicarakan masalah itu.

“Anak yang ngatain Anita kemudian dipanggil dan disuruh meminta maaf kepada Anita, jadi dia mau sekolah lagi,” tutur Tasya. Kesannya sepele, tapi masalah fisik erat kaitannya dengan penerimaan sosial. Kegemukan berdampak pada masalah emosi dan perilaku.

Sebagai contoh, obesitas memiliki stereotip yang cenderung negatif. Dari sudut pandang anak-anak, misalnya, apakah anak gemuk nyaman diajak bermain temantemannya? Untuk permainan fisik yang kompetitif, umumnya anak obesitas tidak dapat bergerak aktif atau lamban.

“Hal ini secara tidak langsung akan berdampak pada harga diri dan kepercayaan diri anak yang menjadi rendah,” kata Aurora Lumbantoruan MPsi. Psikolog ini menuturkan, remaja dan anak perempuan lebih terkena dampak sosial ini daripada remaja laki-laki yang gemuk.

Karena itu, orang tua sebaiknya memberikan contoh pola makan yang sehat kepada anak agar terhindar dari masalah obesitas. Sedangkan, untuk anak yang telanjur obesitas, sebaiknya orang tua melakukan upaya untuk menurunkan berat badan anak secara bertahap. Sementara itu, psikolog anak dan keluarga Naomi Soetikno MPsi memaparkan, orang tua memang memegang peran besar dalam membuat anak menjadi obesitas.“Anak adalah peniru ulung. Dia meniru orang tua terlebih dahulu sebelum meniru lingkungan. Dalam pola makan, apa yang dimakan orang tua juga akan dimakan anak. Bahkan, masalah makan pada anak juga dipengaruhi orang tua,” beber Naomi. Demi menghindari anak rewel, misalnya, orang tua akan membiarkan anak makan apa pun yang disukai, kapan pun anak suka.
Atau, anak menolak makan sayur dan hanya mau makan roti dan permen, semuanya dituruti orang tua. Orang tua juga acap kali mengabaikan kandungan gizi yang dimakan anak sehari-hari. Padahal, makanan adalah sumber energi utama.

Makanan tinggi kalori seperti gula dan lemak, tanpa disertai aktivitas fisik, menjadi penyebab utama kegemukan anak. Pola makan sehat dimulai dari inisiatif orang tua dengan membiasakan makan tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat jenis.

Selain itu, orang tua harus menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Tetapi menurut Naomi, harus diingat bahwa saat makan jangan menjadi sarana penghakiman untuk anak. Terkadang orang tua mengkritik anak justru saat makan, bahkan cara anak makan kadang menjadi sasaran kritik. Pada akhirnya, anak menjadi lebih memilih makan sendirian.

(don)

SUMBER