Paslon Diminta Gunakan Bahasa Membumi Saat Debat Capres

oleh -986 views

Bahasa dalam debat harus bisa dimengerti oleh semua lapisan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peneliti Komunikasi Politik dari UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto menekankan, agar kedua pasangan calon presiden maupun wakil presiden memperhatikan gaya komunikasi dalam debat capres. Menurut Gun gun, pemilihan gaya komunikasi capres maupun cawapres harus dapat dimengerti oleh semua lapisan masyarakat.

“Formulasi bahasa yang ditampilkan oleh para pasangan di debat jangan sulit dimengerti, proses gaya penyampaian termasuk juga pengemasan pesan, karena kan debat itu sebenarnya memapar tiga lapis masyarakat, masyarakat awam berperhatian dan masyarakat elite,” ujar Gun Gun kepada wartawan di Menteng, Jakarta, Sabtu (12/1).

Menurutnya, tidak semua masyarakat dapat dengan mudah memahami jika jika paslon menggunakan bahasa terlalu teknis dalam penyampaian debat, terutama masyarakat awam. Padahal, masyarakat awam adalah lapisan pemilih paling besar di pemilu. Karenanya, kedua paslon harus  dapat membahasakan istilah-istilah terkait tema debat hukum, HAM, korupsi dan terorisme.

“Bagaimana dapat menyentuh tiga lapisan dan itu saya yakin meraka sudah menyiapkan karena pasti udah dipoles oleh tim konsultan, hanya masalahnya ya harus hati-hati adalah pada saat improve pernyataan spontan,” kata Gun Gun.

Dosen komunikasi politik itu menilai, cara masing-masing paslon memnjawab pernyataan spontan juga menjadi penilaian penting masyarakat terkait gaya komunikasi paslon. Gun Gun melanjutkan, pasangan calon juga harus memperhatikan cara berkomunikasi dalam debat untuk kalangan pemilih milenial. Berbeda dengan kalangan pemilih pada umumnya, pemilih milenial dianggap tidak terlalu memperhatikan debat secara langsung.

Menurut Gun Gun, pemilih milenial dinilai justru bertautan dengan perdebatan di ruang maya terkait penampilan paslon dalam debat. Sehingga, yang penting diperhatikan tim sukses maupun pasangan calon adalah pesan debat yang kemudian diresonansikan ke media sosial.

“Jadi potongan potongan perdebatan yang dilakukan oleh semua pasangan itu harus mampu diterjemahkan dengan bahasa bahasa yang jauh lebih down to earth, lebih membumi terutama persepsi khalayak pemilih milenial,” kata Gun Gun.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman Pemilu 2014 lalu, atensi masyarakat untuk menonton debat secara langsung tidak seantusias saat terjadi diskusi di ruang maya. “Yang antusias sebenarnya ramainya di dialektika di medsos karena itu timses harus membantu pasangan calon untuk kemudian memudahkan para kaum milenial itu untuk mendapatkan inside dari isu hukum, HAM dan terorisme,” ujar Gun Gun.

 

SUMBER