Terpidana Budi Mulya Ajukan JC, KPK: Kami Pelajari Dulu

oleh

JawaPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan pihaknya bakal mempelajari pengajuan justice collabolator (JC) yang diajukan oleh keluarga eks Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya. Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pemberian status JC akan dilakukan melalui pertimbangan yang matang.

“Soal apakah posisi JC itu diterima atau tidak itu tentu butuh pertimbangan yang cukup matang. Kami harus melihat apakah pelaku utama atau tidak,” ujarnya kepada awak media, Jumat (7/12).

Dia menyebut, dalam pengajuan JC, Budi Mulya harus mempunyai dua syarat, yakni bukan pelaku utama dan bisa menyeret nama lain yang ikut terlibat.

“Misalnya apakah mengakui perbuatan atau tidak dan juga apakah membuka peran pihak lain seluas-luasnya atau tidak,” jelas dia.

Kendati demikian, dia menegaskan hakim lah yang mempunyai kewenangan mengabulkan permohonan JC atau tidak. Pasalnya, pengajuan JC mengacu pada surat edaran Mahkamah Agung (SEMA).

“Kalau mengacu ke SEMA itu pengajuan bisa pada proses jadi tersangka atau terdakwa kemudian di penuntutan baru ditentukan oleh jaksa apakah memenuhi syarat atau tidak. Jadi hakim memiliki kewenangan untuk mengabulkan atau tidak posisi JC tersebut,” pungkasnya.

Sekadar informasi, sebelumnya, anak Budi Mulya, Nadia Mulya, mendatangi KPK dan menyerahkan dokumen pengajuan diri sebagai JC.

“Salah satu bentuk upaya kita mengupayakan keadilan bagi bapak kita adalah memberikan dokumen yang barusan dikasih lihat oleh ibu saya untuk pengajuan sebagai JC,” ungkapnya usai tiba di gedung KPK, Rabu (5/12).

Dalam kasus ini, Budi Mulya divonis 10 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam proses pemberian FPJP dan penentuan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Majelis hakim menilai, perbuatan Budi Mulya dan sejumlah orang lainnya telah merugikan keuangan negara total Rp 8,012 triliun. Namun, Budi Mulya diperberat hukumannya menjadi 15 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

(ipp/JPC)

SUMBER