Industri Elektronik RI Melesu dalam 3 Tahun Terakhir

oleh

Produsen ponsel dalam negeri turut terkena imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Namun demikian, sebagian besar produsen telah memiliki strategi agar harga jual ponselnya tidak naik, namun tetap mendapatkan keuntungan.

Ketua Umum Gabungan Elektronik Indonesia (Gabel) Ali Subroto mengatakan, pelemahan rupiah memang sangat terasa dampaknya kepada produsen elektronik, khususnya ponsel. Sebab, sebagian komponen masih harus diimpor dari negara lain.

“Karena menggunakan komponen impor, itu tergantung dolar, maka akan meningkatkan biaya produksi. Jadi kalau rupiah melemah, biaya produksi meningkat,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Namun demikian, lanjut dia, hal seperti ini bukan pertama kali terjadi. Oleh sebab itu, para produsen telah memiliki strategi sendiri dalam menghadapi depresiasi rupiah ini.

“Tapi ini bukan pertama kali, sejak dulu sudah sering mengalami hal ini. Jadi otomatis idealnya dibebankan kepada pasar, tapi masalahnya pasar belum tentu bisa terima. Jadi tergantung model bisnisnya (dari produsen),” jelas dia.

Ali menyatakan, jika ingin mendapatkan pangsa pasar lebih besar, biasanya produsen lebih memilih untuk mengurangi keuntungan dengan tidak menaikkan harga jual produknya. Namun jika ada juga produsen yang mengeluarkan model baru untuk dengan harga baru yang lebih mahal.

“Kalau masih punya stok lama banyak, dia masih bisa jual dengan harga lama. Atau kalau dia mau mengambil pangsa pasar, dia korbankan (keuntungan) untuk mengambil pangsa pasar. Tapi biasanya pada periode tertentu dia akan menaikkan harga sebagian. Atau kalau ada dia model baru, dia keluarkan dengan harga baru,” tandas dia.

SUMBER

Tinggalkan Balasan