Sesar Saddang, Sesar Aktif di Pulau Sulawesi Sepanjang…

oleh

loading…

TORAJA UTARA – Sesar Saddang adalah salah satu sesar aktif yang ada di Pulau Sulawesi selain Sesar Palu-Koro, Sesar Sesar Matano, Sesar Lawanopo, Sesar Walanae dan Sesar Gorontalo.

Sesar Saddang membentang mulai dari pesisir Mamuju Sulawesi barat, memotong secara diagonal wilayah Sulawesi Selatan bagian tengah ke wilayah Sulawesi Selatan bagian selatan, melewati Kota Bulukumba hingga ke Pulau Selayar bagian timur.

“Sesar Saddang ini cukup panjang, kurang lebih 400 kilometer. Sesar ini salah satu sesar geser aktif di Pulau Sulawesi,” Kata Abdullah MT, Pengamat Kebencanaan Sulawesi Tengah, Minggu Sore (4/11/2018).

Sejarah aktivitas Sesar Saddang diketahui belum pernah menimbulkan gempa yang cukup besar. Berbeda dengan Sesar Palu-Koro yang telah menimbulkan kekuatan gempa hingga mencapai 7 SR lebih.

“Sesar ini tidak pernah menimbulkan gempa yang besar sepanjang sejarahnya yang saya ketahui. Berbeda dengan Sesar Palu-Koro yang telah beberapa kali menimbulkan gempa dengan Magnitudo 7 Skala Richter,” ungkap Abdullah.

Sesar Saddang ini termasuk sesar geser yang proses terbentuknya dikarenakan saling berbenturnya dua lempengan bumi yakni lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, sehingga menimbulkan patahan.

“Sesar ini adalah sesar geser, terbentuk oleh dua lempengan bumi, yang berbenturan hingga menyebabkan patahan dan terus bergeser. Terbentuknya sesar ini tidak ada hubungannya dengan gunung ataupun gunung api,” tutur Abdullah, Akademisi Geologi Universitas Tadulako itu.

Lebih Lanjut Abdullah mengatakan, aktivitas Sesar Saddang menyebabkan gempa di Wilayah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, sejak Sabtu hingga Minggu (4/11/2018) dengan tingkat Magnitudo tertinggi yakni 4,9 Skala Richter. Sebanyak 21 kali gempa di wilayah tersebut, kecil kemungkinan kekuatan gempa akan mencapai 7 SR.

Jika dilihat dari satu rangkaian gempa, dimulai dari gempa pendahuluan, gempa utama, dan gempa susulan, dari tingkatan klasifikasi itu kekuatan gempa akan semakin melemah hingga stabil.

“Jika rangkaian gempa di Mamasa, gempa utamanya yakni 4,9 SR pada Sabtu Sore kemarin, maka setelah itu semakin melemah. Namun jika gempa pendahulunya adalah berkekuatan 4,9 SR maka kekuatan Gempa utamanya bisa berkekuatan kurang lebih 6 SR, tidak mencapai 7 Skala Richter,” urai Abdullah, yang juga dosen Fisika-Geofisika FMIPA UNTAD Palu.

Perlu diketahui gempa yang mengguncang wilayah Kabupaten Mamasa sejak Sabtu kemarin hingga Minggu siang, tercatat sudah 21 kali dengan Magnitudo yang terus melemah.

(rhs)

SUMBER

Tinggalkan Balasan